Wednesday, 28 December 2011

Terima Kasih IBU

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku
tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah
berbohong.
Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya
selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni
demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan
bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar
yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.
Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu
saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,”
tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.
Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu,
ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari
tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu.
Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan
pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat
dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia
beralasan belum mengantuk.
Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah
meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang
malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami
sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang
mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan
bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja,
ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela
pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar
kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi
keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan
saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.”
Entah sudah berapa kali ibu berbohong.
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus
dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera
pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di
ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.
Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku,
sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku
tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.
Setelah mengucapkan kebohongannya- kebohongannya, ibuku tercinta menutup
mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita,
merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi
membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita
yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa
lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma
karena aktivitas kita yang padat.
Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita.
Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah
makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah
kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?
Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi.
Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah
yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.

Amalkan budaya nasihat


DALAM menempuh kehidupan seharian, kita tidak boleh lari daripada melakukan kesilapan. Pelbagai faktor boleh dikaitkan dalam melakukan kesilapan, mungkin kerana lupa, terlepas pandang, tidak disengajakan atau tidak mendapat maklumat yang cukup.
Oleh itu, amalan nasihat menasihati dalam kehidupan merupakan salah satu cara untuk mewujudkan keharmonian hidup. Rasulullah s.a.w menegaskan dalam sabdanya yang bermaksud: 'Agama Islam itu nasihat. Kami berkata bagi siapa wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Bagi Allah dan kitabNya (al-Quran) dan Rasul-Nya (Sunah-Nya ) dan bagi para Imam (ketua kaum Muslim), serta bagi orang ramai' - hadis riwayat Muslim.
Dalam konteks yang lebih besar, amalan nasihat menasihati merupakan tanggungjawab seorang Muslim terhadap yang lain. Sabda Rasulullah s.a.w bermaksud: 'Hak dan tanggungjawab seorang Muslim terhadap seorang Muslim yang lain ada enam. Jika anda bertemu maka ucapkanlah salam kepadanya dan jika anda dijemput maka hendaklah memperkenankannya, dan jika dia meminta nasihat maka nasihatilah dia dan jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah dia semoga dia dirahmati Allah dan jika dia sakit maka ziarahilah dan jika dia mati maka iringilah jenazahnya hingga ke kubur' - hadis riwayat Muslim. Firman Allah s.w.t yang bermaksud: 'Tugas Aku (Nuh) menyampaikan kepada kamu perintah-perintah kamu, sedang aku mengetahui melalui wahyu dari Allah akan apa yang kamu tidak mengetahui' - surah al-A'raf:62.
Amalan hidup nasihat menasihati merupakan tuntutan dan beberapa perkara berkaitan perlu diberi perhatian. Dalam memberi dan menerima nasihat, kita perlulah bersifat positif, tidak terburu-buru, tidak buruk sangka, sentiasa menyelidik dan mengelakkan diri daripada sifat dendam. Allah s.w.t mengingati dengan firmannya yang bermaksud: 'Wahai orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangkaan, sesungguhnya sebahagian sangkaan itu dusta' - surah al-Hujurat :12. Talhah bin Abdul Rahman bin Auf, seorang dermawan Quraisy ditegur oleh isterinya yang berkata: "Saya belum pernah jumpa teman-teman seburuk teman-temanmu.
"Kalau kita senang, semua datang menemui, sekarang bila kita susah, tiada pun mereka datang menemui kita." Jawab suaminya: "Sifat inilah yang patut dipuji, sebab mereka tidak menyusahkan kita."
Seorang ibu bapa tidak boleh tidak untuk sentiasa memberi nasihat kepada anak-anaknya. Ini merupakan satu kewajipan yang perlu dipikul dalam mendidik anak-anak. Namun apa yang tidak disukai oleh anak-anak adalah amalan sikap suka meleter yang tidak bertempat. Amalkan sikap menjadi pendengar yang teliti dan aktif. Hidupkan suasana dan naluri bertanya (dua hala) dan elakkan mencari kesalahan serta carilah perkara yang baik dan positif.
Dalam keadaan tertentu, bukan semua orang suka mendengar nasihat. Namun sifat yang baik apabila diberi nasihat, cubalah jadikan diri sebagai orang positif dalam menerima nasihat. Dalam nasihat, ada terkandung alternatif yang perlu dipilih untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul. Apa yang penting dalam amalan nasihat menasihati ialah semangat dan amalan silaturahim hendaklah terus terjalin.
Jangan jadikan nasihat sebagai satu kritikan yang boleh menyakiti hati dan perasaan yang boleh memutuskan hubungan silaturahim. Allah s.w.t mengingatkan kita dalam firmannya yang bermaksud: 'Berpegang teguhlah kamu semua dengan tali (agama Islam) Allah dan jangan kamu bercerai berai.' - surah al-Imran:103.

diambil dr artikel Taman2syurga/22.05.09/2.08pm

Panduan Mengkhusyukkan Sembahyang

 Tips-tipsnya seperti berikut :
  1. Memakai pakaian yang bersih dan suci lagi kemas serta bau-bauan yang diharuskan dan sentiasa sembahyang di awal waktu kecuali jika ada sesuatu majlis atau keuzuran
  2. Tidak memandang ke kiri atau ke kanan sebaliknya terus memandang ke tempat sujud
  3. Menyemaikan di dalam hati perasaan takut dan rendah diri terhadap Allah yang Maha Melihat setiap gerak-geri kita
  4. Menumpukkan pandangan ke tempat sujud dan tidak banyak menggerakkan anggota badan dalam sembahyang
  5. Membanyakkan sedekah terutamanya kepada golongan fakir miskin
  6. Mempastikan tidak ada gangguan di dalam kawasan atau persekitaran sembahyang
  7. Cuba memahami segala isi bacaan dalam sembahyang termasuk ayat Al Quran, zikir dan tasbih
  8. Mengambil wuduk dengan sempurna supaya air merata pada semua bahagian anggota yang wajib dan membaca doa apabila air melalui di tiap-tiap anggota tersebut
  9. Membaca surah An-Nas, selawat ke atas Rasulullah SAW, istighfar dan apa-apa bacaan untuk menjauhkan gangguan syaitan sebelum takbir
  10. Tidak menahan diri dari membuang air kecil atau air besar sebelum sembahyang sebaliknya hendaklah ditunaikan hajat itu
  11. Menjaga makan dan minum dan memastikan sumbernya dari yang bersih lagi halal serta menjauhi makanan yang haram dan syubahat
  12. Memastikan di bahagian hadapan tempat sujud tidak ada gambar yang boleh menarik pandangan yang menyebabkan fikiran dan hati terganggu
  13. Banyak mengingati mati dan menganggap sembahyang yang dilakukan itu adalah sembahyang yang terakhir dalam hidupnya
  14. Menyedari hakikat yang ianya sedang berhadapan dengan Allah yang Maha Agung dan Maha Mengetahui akan segala rahsia hambanya
  15. Memusatkan seluruh ingatan dan tumpuan pada sembahyang serta melambatkan bacaan tasbih
Renung-renungkan dan selamat beramal!

Firman Allah SWT :
[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Hadis Rasulullah SAW:
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)


 DiPOS OLEH Bawang Goreng PADA 5/22/2009 06:59:00 PM

Makna air mata insan

Tazkirah Remaja: Makna air Mata insan Bersama Mohd Zawawi Yusoh

PERNAHKAH anda menangis?

Jika menangis, apakah punca dan sebabnya?

Menangis adalah fitrah manusia tetapi sebab tangisan akan memberikan harga dan nilai tersendiri.

Allah yang menciptakan ketawa dan tangis, malah menciptakan sebab tercetusnya tangisan.

Banyak air mata mengalir di dunia ini. Sumbernya dari mata, mengalir ke pipi terus jatuh ke bumi.

Mata itu kecil namun ia tidak pernah kering. Ia berlaku setiap hari tanpa putus-putus. Seperti sungai yang mengalir ke laut tidak pernah berhenti! Kalaulah air mata itu terkepung, seperti air hujan, banjirlah dunia ini.

Menurut Ibnul Qayyim ada beberapa jenis tangisan antaranya ialah:

Menangis kerana kasih sayang dan kelembutan hati.

Menangis kerana rasa takut.

Menangis kerana cinta.

Menangis kerana gembira.

Menangis kerana menghadapi penderitaan.

Menangis kerana terlalu sedih.

Menangis kerana terasa hina dan lemah.

Menangis untuk mendapat belas kasihan orang.

Menangis kerana mengikut-ikut orang menangis.

Menangis orang munafik - pura-pura menangis.

Ada jenis tangisan nampak biasa sahaja tetapi air mata yang mengalir itu dapat memadamkan api neraka.

Ini disahkan oleh Nabi s.a.w dalam satu hadis, Rasulullah bersabda, maksudnya: “Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka.

Dan apabila air matanya mengalir ke pipi maka wajahnya tidak akan dikotori oleh debu kehinaan, apabila seorang daripada suatu kaum menangis, maka kaum itu akan dirahmati. Tidaklah ada sesuatu pun yang tak mempunyai kadar dan balasan kecuali air mata. Sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka.”

Tangisan yang dimaksudkan ialah tangisan kerana takut kepada Allah. Menangis kerana menyesal atas kesalahan dan dosa, malah tangisan takut kepada azab Allah sangat bernilai di sisi-Nya sehingga air mata itu boleh memadamkan api neraka.

Salman al-Farisi r.a berkata, sahabat-sahabatku menangis atas tiga perkara, iaitu:

Berpisah dengan Rasulullah dan kalangan sahabat.

Ketakutan seorang yang perkasa ketika melihat malaikat Israil datang mencabut nyawanya.

Aku tidak tahu sama ada aku akan diperintahkan untuk ke syurga atau neraka.

Ada juga jenis air mata yang tidak bernilai di sisi Allah, malah kadangkala mendapat kemurkaan Allah. Antaranya menangis tengok filem Hindi serta menangis sehingga meratap dan memukul badan, malah merobek pakaian apabila ada kematian.

Tanda air mata rahmat sebagaimana diterangkan Rasulullah s.a.w dalam sabda yang bermaksud: “Jagalah mayat ketika kematiannya dan perhatikanlah tiga perkara, iaitu.

Apabila dahinya berpeluh.

Air matanya berlinang.

Hidungnya keluar cecair.

Simpanlah air mata tangisan itu semua sebagai bekalan untuk menginsafi segala kecuaian yang melanda diri, segala dosa berbentuk bintik hitam yang menggelapkan hati hingga sukar untuk menerima hidayah dari Allah s.w.t.

Justeru, serulah air mata itu dari persembunyiannya di sebalik kelopak mata, agar ia menitis, membasahi dan mencuci hati, sehingga ia putih kembali dan semoga ia dapat meleburkan dosa dan mendapat keampunan-Nya.